Modal Burger Menu

Air Bersih untuk Masa Depan: Kolaborasi WVI dan Indomaret di NTT

Kolaborasi Wahana Visi Indonesia (WVI) dan PT Indomarco Prismatama (Indomaret) dalam menyediakan fasilitas sanitasi di sekolah. tirto.id/ Eggi Hadian Tirto.id

tirto.id – Akses air bersih sering kali terdengar sederhana. Mengalir dari keran, digunakan setiap hari, lalu terlupakan. Namun, bagi ribuan warga di Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), air bersih adalah kemewahan yang dulu harus diperjuangkan dengan berjalan hingga sejauh dua kilometer, serta menuruni jalan terjal dan licin yang membuat mereka rentan terjatuh.

Kondisi itu dialami salah satunya oleh Salfa, siswi kelas enam di sebuah sekolah dasar penerima manfaat. Kisah Salfa di sekolahnya menjadi gambaran nyata bagaimana keterbatasan akses air bersih memengaruhi keseharian anak-anak. Setiap pagi, ia harus berjalan kaki sekitar satu jam melewati area persawahan untuk sampai ke sekolah. Perjalanan itu menguras tenaga bahkan sebelum kegiatan belajar dimulai.

Sesampainya di sekolah, aktivitasnya tidak langsung diisi dengan pelajaran. Salfa dan teman-temannya justru harus melakukan pekerjaan tambahan, yakni menimba air untuk memastikan ketersediaan air di toilet, yang saat itu belum memiliki sistem air bersih yang memadai.

“Saya datang [ke sekolah], lalu disuruh mungut sampah, baru istirahat sedikit, lalu timba air. [Timba airnya] dari belakang kelas. Masukin air ke tong gitu,” jelasnya kepada Tirto, Rabu (11/3/2026).

Proses tersebut tidak hanya memakan waktu, tetapi juga tenaga. Dalam kondisi tertentu, air yang tersedia pun tidak selalu mengalir deras, sehingga memperlambat pekerjaan mereka. Hal ini membuat aktivitas belajar kerap tertunda karena siswa harus menyelesaikan tugas-tugas tersebut terlebih dahulu.

Kondisi lingkungan yang belum tertata juga menambah tantangan. Jalur yang licin, terutama setelah hujan, membuat aktivitas membawa air menjadi berisiko. Tidak sedikit siswa yang harus berhati-hati agar tidak terjatuh saat membawa ember atau wadah air.

“Saya pernah jatuh sih. Kepleset karena licin,” sebutnya.

Sesampainya di sekolah, aktivitasnya tidak langsung diisi dengan pelajaran. Salfa dan teman-temannya justru harus melakukan pekerjaan tambahan, yakni menimba air untuk memastikan ketersediaan air di toilet, yang saat itu belum memiliki sistem air bersih yang memadai.

“Saya datang [ke sekolah], lalu disuruh mungut sampah, baru istirahat sedikit, lalu timba air. [Timba airnya] dari belakang kelas. Masukin air ke tong gitu,” jelasnya kepada Tirto, Rabu (11/3/2026).

Proses tersebut tidak hanya memakan waktu, tetapi juga tenaga. Dalam kondisi tertentu, air yang tersedia pun tidak selalu mengalir deras, sehingga memperlambat pekerjaan mereka. Hal ini membuat aktivitas belajar kerap tertunda karena siswa harus menyelesaikan tugas-tugas tersebut terlebih dahulu.

Kondisi lingkungan yang belum tertata juga menambah tantangan. Jalur yang licin, terutama setelah hujan, membuat aktivitas membawa air menjadi berisiko. Tidak sedikit siswa yang harus berhati-hati agar tidak terjatuh saat membawa ember atau wadah air.

“Saya pernah jatuh sih. Kepleset karena licin,” sebutnya.

Kini, melalui program Peduli Anak Sehat yang merupakan hasil kolaborasi antara Wahana Visi Indonesia (WVI) dan PT Indomarco Prismatama (Indomaret), harapan itu mulai mengalir lebih dekat. Air bersih langsung mengalir ke rumah dan sekolah, serta berdampak pada masa depan anak-anak yang lebih cerah.

Program Peduli Anak Sehat menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan solusi konkret bagi persoalan mendasar di masyarakat, khususnya akses air bersih dan sanitasi.

Program yang berlangsung sejak April 2025 hingga Februari 2026 ini menjangkau lima lokasi di Manggarai Timur dengan total 2.449 penerima manfaat. Kehadiran program ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga upaya membangun sistem yang berkelanjutan dan inklusif bagi masyarakat, terutama anak-anak.

Salah satu aspek penting dari program ini adalah sumber pendanaannya yang berasal dari donasi pelanggan Indomaret. Setiap rupiah yang disumbangkan saat berbelanja menjadi bagian dari upaya menghadirkan akses air bersih dan sanitasi yang aman. Skema ini menunjukkan bahwa kontribusi kecil dari banyak orang dapat menghasilkan dampak besar ketika dikelola secara tepat dan kolaboratif.

Di lapangan, intervensi dilakukan melalui pembangunan jaringan air bersih yang dilengkapi dengan reservoir dan sistem pompa berbasis panel surya. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan operasional, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses listrik. Air tidak hanya tersedia, tetapi juga dapat didistribusikan secara konsisten hingga ke rumah-rumah warga dan fasilitas publik seperti sekolah.

Di sektor pendidikan, program ini turut menghadirkan fasilitas sanitasi sekolah yang layak. Toilet dibangun dengan ruang terpisah bagi siswa laki-laki, perempuan, dan penyandang disabilitas, menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Selain itu, fasilitas cuci tangan pakai sabun dan sistem air bersih sekolah juga disediakan, mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sehat. Fasilitas sanitasi layak dihadirkan di sekolah guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang dialami secara langsung.

Sulitnya Akses Air Bersih

Kondisi sebelum program ini berjalan menunjukkan betapa krusialnya intervensi tersebut. Area Program Manager Wahana Visi Indonesia Klaster Manggarai Raya, Ignatius Anggorosuryo, menjelaskan bahwa kebutuhan akan air bersih sangat mendesak di wilayah tersebut.

“Kalau kita lihat data, itu baru sekitar 23,21 persen rumah tangga [di Manggarai Timur] yang memiliki akses air minum layak,” ujar Anggoro saat ditemui Tirto di Manggarai Timur, Jumat (13/3/2026).

Tak hanya itu, persoalan kesehatan akibat sanitasi yang buruk juga menjadi perhatian serius. Mengutip data studi Environmental Health Risk Assesment (EHRA) oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur pada 2024, Anggoro menuturkan, sebanyak 62,89 persen anak-anak menderita penyakit diare. Kondisi tersebut diperparah dengan sulitnya akses terhadap air bersih. Warga harus menempuh jalan curam dengan elevasi tinggi sepanjang 1–2 kilometer saat pagi dan sore hari hanya untuk mendapatkan air, yang sebagian besar berasal dari sumber yang tidak terlindungi.

“Sebelumnya masyarakat mengambil dari air sungai. Ada juga yang mengambil dari dusun sebelah. Dan itu harus membutuhkan waktu yang cukup panjang,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh masyarakat di pedesaan yang kesulitan mengakses air bersih. Alex, salah seorang kepala desa yang ditemui Tirto, menggambarkan situasi sebelum adanya program ini. Menurutnya, sebelum adanya sambungan air langsung ke rumah, sebagian besar warga di desanya terpaksa harus mengambil air langsung ke mata air dengan cara ditimba. Jalan yang harus ditempuh untuk menuju mata air itu pun sangat curam dan berbahaya.

“Kalau prosesnya sebelum [ada] sambungan rumah ini, Mas, di sini ada yang timba langsung ke mata air. Ya, kalau yang sebelah barat sini tergantung mata airnya, ada yang sampai 70 meter [jaraknya] ke mata air. Dan lumayan susah, Mas,” kata Alex saat dijumpai Tirto di rumahnya pada Kamis (12/3/2026).

“Kalau akses jalan ke mata air itu kan, Mas, masih jalan tikus. Sehingga itu tadi, kendalanya itu ada yang terpeleset waktu pergi timba air,” sambungnya.

Air Mengalir dengan Mudah ke Rumah Sampai Sekolah

Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Air bersih telah mengalir langsung ke rumah warga, sementara fasilitas sanitasi juga tersedia secara lebih luas. Alex menyebut program ini telah membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat setempat.

“Dengan adanya pembangunan jaringan air bersih dengan sanitasi di desa kami, keluhan daripada masyarakat kami yang selama ini merasa kekurangan air, akan tetapi sekarang itu terpenuhi,” ucapnya seraya tersenyum.

Di tingkat daerah, manfaat program ini juga diakui oleh pemerintah. Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, menilai kehadiran fasilitas air bersih telah membawa perubahan besar, terutama bagi ibu dan anak.

“Saya tahu persis bahwa sebelum ada fasilitas ini, mereka menimba air di kali dengan air yang tidak terlindungi dan air yang tidak bersih. Dengan hadirnya air [bersih] hari ini, saya yakin, tadi kita sudah saksikan bahwa yang paling senang itu adalah kaum ibu dan kaum anak,” ucap Agas dalam wawancara khusus bersama Tirto, Jumat.

Lebih jauh, ia menekankan kaitan antara akses air bersih dan kesehatan anak. Dengan air bersih, ia meyakini kesehatan janin dalam kandungan ibu akan terjaga. Terlebih, ia menjelaskan bahwa 70 persen kecerdasan seorang anak disumbangkan dari ibunya.

Tentunya, keterlibatan sektor swasta dalam program Peduli Anak Sehat menjadi salah satu kunci keberhasilan implementasi di lapangan. Indomaret, sebagai mitra kolaborasi, tidak hanya berperan dalam pendanaan, tetapi juga memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam peninjauan langsung di lokasi, perwakilan Indomaret melihat bahwa fasilitas yang telah dibangun mampu menjawab persoalan mendasar yang selama ini dihadapi warga. Baik di lingkungan masyarakat maupun sekolah, akses air bersih dan sanitasi kini tersedia dalam kondisi yang layak dan dapat digunakan secara optimal.

“Tadi sudah kami lihat juga, baik yang ada di lingkungan masyarakat dan juga di sekolah, semua juga kondisinya cukup baik. Harapan kami juga ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan dengan sebaik mungkin oleh warga masyarakat serta para murid-murid yang ada di sekolah,” ucap Branch Manager Indomaret Cabang Malang, Andhika Artha Pawitra Sukma, di Manggarai Timur, Jumat.

Di balik pembangunan fasilitas tersebut, terdapat mekanisme pendanaan yang melibatkan partisipasi luas dari masyarakat. Program ini didukung oleh donasi pelanggan Indomaret di seluruh Indonesia, yang dihimpun melalui berbagai skema sederhana di tingkat kasir.

“Kami menghimpun donasi dan biasanya pada saat kita memberikan kepada konsumen untuk penawaran donasi, kita sampaikan bahwa, Pak, Bu, apakah berkenan untuk sebagian nilainya didonasikan,” terangnya.

Melalui program ini, anak-anak tidak lagi harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air. Sekolah kini memiliki fasilitas sanitasi yang layak, dan risiko penyakit akibat air tidak aman dapat ditekan. Embun, seorang siswa kelas sembilan SMP di Manggarai Timur merasa sangat senang dan bahagia karena kini tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mendapatkan akses air bersih dari kamar mandi.

Semula, ia merasa lelah ketika harus berjalan setiap pagi dan sore hari untuk menimba air. Kini, kegiatan belajar mengajarnya tak lagi terganggu. Ia pun mengaku lebih bersemangat dan semakin tersadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan fasilitas yang diberikan.

“Kami harus menjaga kebersihan sekolah supaya fasilitas yang dibantu oleh Wahana Visi Indonesia dapat berkembang dengan baik,” kata Embun penuh harap.

Perubahan yang terjadi di Manggarai Timur menjadi bukti bahwa akses air bersih dan sanitasi bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan fondasi bagi masa depan anak-anak. Namun, masih banyak wilayah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Karena itu, partisipasi publik menjadi kunci untuk memperluas dampak baik ini.

Saat ini Wahana Visi Indonesia mengajak masyarakat untuk ikut ambil bagian melalui kampanye Water for Timor, baik dengan menyebarkan kesadaran maupun berkontribusi secara langsung melalui donasi. Setiap dukungan yang diberikan akan membantu menghadirkan akses air bersih, sanitasi layak, serta kehidupan yang lebih sehat bagi anak-anak Indonesia. Informasi lebih lanjut dan cara berkontribusi dapat diakses melalui tautan berikut: https://mywvi.id/enough.

sumber :

tirto.id, Selasa 7 April 2026